MediaBantenCyber.co.id (MBC), Opini — Ruang media sosial kembali riuh setelah Rocky Gerung bergabung sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Ia dilantik Presiden Prabowo Subianto pada 2 Oktober 2026 bersama 25 anggota lainnya. Keputusan itu segera memunculkan perdebatan karena sosok yang selama ini dikenal kritis terhadap kekuasaan kini berada di dalam struktur pemerintahan.
Kontradiksi itu mudah disederhanakan: dulu mengkritik, sekarang masuk ke dalam; berarti berubah. Di media sosial, kesimpulan bahkan sering lahir lebih cepat daripada proses berpikir. Satu potongan video, satu kutipan lama, lalu sebuah vonis.
Bagi saya, justru di titik itulah kita perlu berhenti sejenak.
Dari perspektif Ilmu Komunikasi, saya melihat peristiwa ini bukan hanya sebagai persoalan politik Rocky Gerung, tetapi juga sebagai peristiwa komunikasi. Ia memperlihatkan bagaimana citra dibentuk, opini bergerak melalui jaringan, kontradiksi diproduksi, dan persepsi publik sering kali mendahului verifikasi.
Karena itu, saya menggunakan apa yang saya sebut sebagai nalar jungkit-jungkit: cara berpikir yang tidak menetap di satu sisi, melainkan bergerak dari gagasan menuju keraguan, dari teori menuju pengalaman, dari pikiran menuju realitas, lalu kembali untuk mengoreksi pikiran.
Menerima Gagasan Tanpa Menyembahnya
Media sosial menyederhanakan persoalan kompleks menjadi kalimat pendek: “Rocky sudah masuk pemerintahan”, “Rocky tidak lagi kritis”, atau sebaliknya, “Rocky tetap kritis dan hanya pindah dari luar ke dalam”.
Semua dapat menjadi bahan berpikir, tetapi tidak otomatis menjadi kebenaran.
Dalam ruang digital, sesuatu yang sering terlihat mudah terasa penting dan benar. Algoritma membentuk apa yang kita lihat melalui jaringan, preferensi, riwayat interaksi, dan perilaku pengguna.
Karena itu, linimasa bukanlah masyarakat. Ia hanyalah realitas yang telah diseleksi.
Kita boleh menerima kritik maupun pembelaan terhadap Rocky, tetapi keduanya harus tetap menjadi bahan pertimbangan. Menerima gagasan tidak berarti menyerahkan pikiran kepadanya.
Meragukan Keyakinan Tanpa Menjadi Budak Keraguan
Kita juga perlu meragukan kesimpulan yang terlalu cepat. Memahami seseorang hanya dari satu unggahan, beberapa komentar, atau potongan video adalah jebakan komunikasi digital.
Namun, keraguan tanpa pengujian juga dapat berubah menjadi dogma.
Maka, pertanyaan yang lebih penting bukan sekadar apakah Rocky berubah, melainkan apa yang sebenarnya berubah: pikirannya, posisinya, medan komunikasinya, aksesnya terhadap kekuasaan, atau hanya ruang tempat ia menyampaikan gagasan?
Rocky menyatakan dirinya hanya “pindah dari luar ke dalam” dan tetap kritis. Pernyataan itu tidak harus langsung dipercaya, tetapi juga tidak perlu buru-buru ditolak. Di antara percaya dan menolak itulah nalar bekerja.
Membaca Teori, Lalu Kembali Kepada Realitas
Teori komunikasi membantu kita memahami peristiwa. Framing dapat menjelaskan bagaimana Rocky dikonstruksi sebagai “kritikus yang masuk ke pemerintahan”. Agenda setting membantu membaca mengapa isu tersebut memperoleh perhatian. Konsep echo chamber menjelaskan bagaimana pengguna dapat terus berhadapan dengan opini yang menguatkan keyakinannya sendiri.
Namun, teori hanyalah alat baca. Ia harus diuji oleh kenyataan. Apakah seluruh publik menolak keputusan Rocky? Tidak. Apakah seluruh publik mendukungnya? Juga tidak.
Ruang digital memperlihatkan kritik, dukungan, sinisme, sekaligus harapan agar Rocky mempertahankan sikap kritisnya dari dalam. Karena itu, teori membantu membaca realitas, tetapi realitas harus diberi kesempatan untuk mengoreksi teori.
Bergerak dari Pikiran Menuju Realitas
Sebelum menjadi Wantimpres, Rocky dikenal sebagai pengkritik kekuasaan. Kini posisi institusionalnya berubah. Apakah perubahan posisi otomatis berarti perubahan ideologis? Belum tentu.
Sebaliknya, apakah pernyataan bahwa sikapnya tetap kritis membuktikan tidak ada perubahan sama sekali? Juga belum tentu.
Ruang di antara “ya” dan “tidak” inilah yang sering hilang dari percakapan digital. Kita terlalu mudah dipaksa memilih: pro atau kontra, kawan atau lawan, kritikus atau orang dalam.
Padahal, perubahan posisi justru dapat menjadi kesempatan untuk menguji konsistensi. Jika Rocky tetap kritis, kita memiliki pengalaman untuk menilainya. Jika kritiknya melemah, publik berhak mengoreksinya.
Yang penting bukan percaya atau tidak percaya sejak awal, melainkan memberi kesempatan kepada realitas untuk menguji klaim.
Memeriksa Pertanyaan Sebelum Mencari Jawaban
Pertanyaan “Apakah Rocky Gerung sekarang menjadi bagian dari kekuasaan?” sah, tetapi belum cukup.
Pertanyaan yang lebih produktif adalah: Apa yang terjadi ketika seorang kritikus kekuasaan masuk ke dalam struktur yang selama ini ia kritisi?
Dari sini kita dapat bertanya lebih jauh: apakah kedekatan dengan kekuasaan membuat kritik lebih efektif atau justru lebih kompromistis? Apakah komunikasi dari luar lebih bebas tetapi kurang memiliki akses? Sebaliknya, apakah komunikasi dari dalam lebih dekat dengan pusat keputusan tetapi lebih rentan terhadap kepentingan?
Dulu Rocky berbicara kepada publik tentang kekuasaan. Kini ia juga berbicara kepada kekuasaan. Perubahan medan komunikasi itulah yang layak diamati.
Menjadikan Kontradiksi Sebagai Tenaga untuk Bergerak
Rocky sebagai kritikus yang kemudian menjadi Wantimpres adalah kontradiksi yang menarik. Namun, kontradiksi tidak harus segera menjadi vonis. Ia justru dapat menjadi ujian.
Jika kritiknya tetap tajam, publik memiliki dasar untuk menilai konsistensinya. Jika melemah, publik mempunyai alasan untuk mempertanyakannya.
Karena itu, pertanyaan yang lebih menarik bukan hanya “Apakah Rocky berubah?”, melainkan: “Apa yang dilakukan posisi baru terhadap cara Rocky berpikir, berbicara, dan memengaruhi kebijakan?”
Jawabannya belum selesai. Dan mungkin memang belum seharusnya selesai.
Membebaskan Diri dari Gema
Pada akhirnya, persoalan Rocky Gerung menjadi lebih besar daripada Rocky Gerung itu sendiri.
Ruang digital memberi kebebasan berbicara, tetapi sekaligus dapat mengurung kita dalam gelembung algoritmik. Kita tidak lagi mencari kebenaran, melainkan pembenaran.
Ketika setiap perbedaan segera dipaksa menjadi kawan atau lawan, media sosial tidak lagi menjadi ruang publik, melainkan ruang gema. Kita berbicara, lalu mendengar suara sendiri kembali kepada kita. Gema bukanlah kebenaran.
Karena itu, keputusan Rocky menjadi Wantimpres tidak perlu dirayakan secara berlebihan, tetapi juga tidak perlu dihukum secara terburu-buru.
Jika ia mengatakan tetap kritis, biarkan kebijakan dan pertimbangannya menjadi bukti. Jika ia mengatakan berada di dalam pemerintahan membuat gagasannya lebih cepat sampai kepada Presiden, publik dapat menguji apakah gagasan itu benar-benar memengaruhi kebijakan atau berhenti sebagai pernyataan.
Di sinilah kedewasaan komunikasi publik dimulai: tidak semua hal harus segera dipuji dan tidak semua hal harus segera dicaci. Sebagian cukup diamati, diuji, lalu diperdebatkan dengan argumen.
Sebagai jurnalis dan mahasiswa magister komunikasi, saya melihat tantangan komunikasi digital hari ini bukan hanya banjir informasi, tetapi banjir kepastian.
Semua orang merasa memiliki jawaban. Padahal, mungkin kalimat paling intelektual justru: “Saya belum tahu.”
Dari sana penelitian dimulai. Pertanyaan lahir, data dicari, teori diuji, realitas dibaca kembali, dan pikiran dikoreksi.
Itulah nalar jungkit-jungkit: menerima gagasan tanpa menyembahnya, meragukan keyakinan tanpa menjadi budak keraguan, membaca teori lalu mengujinya melalui realitas, memeriksa pertanyaan sebelum mencari jawaban, dan menjadikan kontradiksi sebagai tenaga untuk bergerak.
Pada akhirnya, nalar bukan hanya alat untuk membebaskan kita dari propaganda, kekuasaan, dan algoritma. Ia juga harus membebaskan kita dari keterjajahan oleh pikiran sendiri. Sebab persoalan terbesar hari ini mungkin bukan Rocky Gerung yang berpindah dari luar ke dalam. Melainkan kita yang terlalu mudah berpindah dari berpikir menjadi percaya, dari percaya menjadi membela, dan dari membela menjadi membenci, tanpa pernah memeriksa bagaimana pikiran kita sendiri bekerja.
Maka, sebelum bertanya apakah Rocky masih seorang kritikus, mungkin ada pertanyaan yang lebih penting: Apakah kita sendiri masih menjadi manusia yang kritis ketika membaca Rocky?
Penulis: Mohamad Romli, Jurnalis dan Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi, Budi Luhur University. (*)
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
Jasa Backlink
Download Anime Batch
