JAKARTA, TINTAHIJAU.com — Polda Metro Jaya memastikan proses penyelidikan terkait kematian diplomat muda Kementerian Luar Negeri, Arya Daru Pangayunan (ADP), masih terus berjalan. Hal tersebut disampaikan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto dalam keterangan pers di Mapolda Metro Jaya, Jumat (28/11/2025).
“Penyidik belum menghentikan proses penyelidikan dikarenakan apabila masih menemukan informasi atau fakta-fakta lain, ini selalu akan didalami,” ujar Budi, dikutip dari Antara.
Menurutnya, polisi saat ini masih melakukan pemeriksaan lanjutan, termasuk berkoordinasi dengan pihak Meta terkait aktivitas media sosial Arya. “Kami akan koordinasi kepada yang berkompetensi adalah pihak Meta,” kata Budi.
Budi juga menanggapi pernyataan kuasa hukum keluarga Arya mengenai dugaan penemuan sidik jari pada bantal dan seprai. Ia menjelaskan bahwa proses pengambilan sidik jari memiliki keterbatasan teknis, terutama pada permukaan berpori.
“Dalam keilmuan pengambilan sidik jari, itu di permukaan yang padat dan tidak berpori lebih mudah. Namun ada teknik-teknik lain yang bisa diterapkan, dan sejauh ini sudah dilakukan secara maksimal,” tuturnya.
Ia menegaskan penyidik terus berkoordinasi dengan keluarga inti Arya terkait perkembangan hasil temuan.
Sebelumnya, kuasa hukum keluarga ADP, Nicholay Aprilindo, kembali mendesak Polda Metro Jaya untuk menaikkan kasus kematian Arya ke tahap penyidikan. Desakan itu disampaikan dalam audiensi dengan Ditreskrimum Polda Metro Jaya pada Rabu (26/11/2025).
“Masukan-masukan kami kepada pihak penyelidik bahwa kami minta untuk kasus ini dinaikkan ke tahap penyidikan,” ujar Nicholay seusai pertemuan.
Ia juga meminta kepolisian menggelar perkara terlebih dahulu sebelum meningkatkan status penanganan kasus. Namun, menurut informasi yang diterimanya, hingga kini gelar perkara belum pernah dilakukan. Polda Metro Jaya, kata Nicholay, baru menggelar konferensi pers pada 29 Juli 2025 yang berisi pemaparan kesimpulan ahli.
Arya Daru ditemukan meninggal dunia pada 8 Juli 2025 di kamar kosnya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Polisi menyebut penyebab kematian adalah mati lemas dan menegaskan tidak ada keterlibatan pihak lain.
Namun pihak keluarga menolak kesimpulan tersebut. Mereka meyakini Arya tidak mungkin bunuh diri, terutama karena kondisi jenazah ditemukan dengan kepala terlilit lakban secara rapat dan rapi. Selain itu, sebelum meninggal, Arya disebut sedang berbahagia karena baru mendapat promosi jabatan dan akan bertugas di Finlandia.
Kecurigaan keluarga semakin menguat setelah mereka mengalami serangkaian teror pascakejadian. Pada 9 Juli 2025, sehari setelah pemakaman, keluarga menerima amplop berisi tiga simbol dari styrofoam: bunga kamboja, hati, dan bintang. Teror berlanjut pada 27 Juli 2025 saat makam Arya diacak-acak orang tak dikenal, dan pada September 2025 ketika makam kembali didatangi pihak misterius yang meninggalkan rangkaian bunga mawar berbentuk garis.
Budi Hermanto menegaskan Polda Metro Jaya berkomitmen menuntaskan perkara ini. “Kami konsisten sampai perkara ini terang-benderang,” katanya.
Proses penyelidikan yang belum dihentikan memberi harapan baru bagi keluarga untuk mendapatkan kejelasan atas kematian Arya, meski hingga kini berbagai pertanyaan masih menggantung.
Agen234
Agen234
Agen234
Berita Terkini
Artikel Terbaru
Berita Terbaru
Penerbangan
Berita Politik
Berita Politik
Software
Software Download
Download Aplikasi
Berita Terkini
News
Jasa PBN
Jasa Artikel
News
Breaking News
Berita
